Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Apa Berbeda

Untuk apa berbeda warna
Berbeda visi, misi dan garis perjuangan politik
Berbeda menakar plata form parpol
Yang merindukan badut-badut penguasa
Kami, rakyat butuh makan, damai dan senyum
Bukan sebatas kata makan
Kami, rakyat tidak butuh janji untuk makan, damai, senyum
Kami, rakyat butuh bukti makanan, rasa damai
dan tebaran senyum di setiap rongga-rongga kulit bumi

Untuk Apa Terus Berbeda;
jika masih ada air mata kaum lata membasahi bumi
jika masih terbersit seberkas darah politik di jalanan
jika tuan-tuan politik saling menabrakan angkuh keangkeran
jika rakyat jelata masih mengungsi ke bilik-bilik kesunyian
jika massa tuan-tuan masih saling mengancam
jika kami rakyat masih menebar senyum palsu
jika bicara lantang dengan pengeras suara di pundak
jika alat tajam masih tetap berbicara
jika lentera politik membentur batu dan bersarang di pucuk cakrawala
Jika masih ada keping debu traumatis menyayat kalbu anak negeri

Untuk apa berbeda?
Kucari perbedaan di awang-awang
Katanya burung masih beterbangan
K…
Postingan terbaru

Cermin Cinta Yang Retak

Bendel keakuan terpahat kambuh
Empul keegoan tertancap menembus cinta
Sketsa bumi tersembunyi dalam tanya
Kepingan cintapun seketika retak
Hanyut dalam larutan air mata dan sesal
Awan gemawan mengaca tajam
Meneropong hati yang serba bisu
Comelan bisupun mengadu
Dalam batin awak semesta yang berlaraz lirik
Saat dendam mendendang maaf
Tercebur dalam pengapan cinta nan asam
Mengais naluri yang merindu cinta
Akan patahan hidup penuh riak
Rayuan pun kian meredup
Tersembunyi meradang akan cinta
Seakan cinta terakit pada dinding asmara
Lalu, Silentium Magnum menebar senyum
Melele dalam rongga yang tidak bertepi
Pun membeku di atap bilur-bilur nista
Kala cermin cinta bertepuk retak
Suasana bising sontak berlagu
Memagnet cemburu
Dalam bilik-bilik hati yang menyimpuh
Menoreh pose bumi penuh tatap
Semua berlabuh di tepian batin….
Pantai Sanur, Bali 9 Februari 2006

Dalam Relung Senja

Syair Kyrie Eleison mendaras
Kala senja nyaris merayu bibir laut
Titah hati bumi bergema,
Terhempas dalam gubuk-gubuk pasir putih
Terdengar melodi, Kyrie Eleison
Meski tak ada bilur bumi yang diampuni
Deru ombak bersibak dalam relung telapak
Semilir angin pasang berhembus
Merasuk dalam sekat-sekat bumi
Pasir bergesek pertanda ada kehidupan
Ingin menyapa tamu pantai yang berselangka datar
Semedi tuk membuang kebisingan
Di atas onggokan rutinitas kehidupan
Tapi, hati tetap menahan duka palu
Yang merobek kalbu dalam paruh waktu
Tersabit pada sarang nurani yang munafik
Dalam bilur-bilur dengki, dusta, isu dan nista
Aku menatap senja di telaga nirmala
Dalam bentangan teriakan gempita
Kucoba menggali pasir untuk mengaca
Adalah jawaban keangkuhan
Adalah sia-sia keabadian komedi
Adalah tersisa kata tidak ‘tuk tak terus bergumul
Dalam lautan kesalahan dan kegamangan
Dalam samudera godaan beruntun
Hanya,
Adakah bibit maaf tersembul bersama desiran angin?
Adakah sisa-sisa mujizat yang ditunggu?
Adakah umpatan m…

Sinar Cinta Kematian

Pada telaga keterlelapan
Selaksa cahaya menyorot punggung
Aku coba sembunyi dan merayap
Bayangan malam menyelinap pada badan jalan setapak
Kucoba malu melangkah seribu
Aku terasa penuh pilu dan bilur
Aku cape dikejar-kejar sinar
Dalam pelukan punggung bumi yang retak
Semua hanya berarak di tepi-tepi jalan setapak
Aku lalu sadar terlambat
Sorotan sinar nan tajam adalah kehadiran-mu, Mama
Aku lalu sadar dan tahu, Mama
Engkau begitu menyayangiku
Dengan susu buah dada-mu dulu
Aku bangga Mama-ku
Susu-mu yang kurus adalah
Tempat bersarang mulutku dulu
Aku tahu mama-ku
Dalam susu buah dada-mu,
Ada kasih dan sayang
Ada roh kehidupan dalam bayang-bayang terang
Sinar-mu yang datang adalah
Tempat bersarang kasih dan sayang dulu
Sinar-mu itu, tanda pamit mama kepada-ku
Bahwa aku pergi, nak…
Hanya aku tak menepis,
Mama tega menyapa aku pergi
pada larut malam, Rabu 2 Juni 2004
Mama, aku lantas sadar
Aku tak mungkin bisa lari
Tidak pernah rencana melari
Aku masih waras soal beban kasih, sayang dan derita du…

Aku Pergi

Pergi menuju,
Pergi berjuang
bukan untuk berbelaskasih
pun tidak untuk dikasihani
tapi tetap menabur cinta tuk menuai belaskasih

Aku pergi, ya pergi ke seberang
Di sana, wajah semesta menanti
tuk bersama berjuang,
meniti karier
mengukir prestasi
Aku pergi tanpa berdalih
berdalih untuk atau demi
hanya satu tekad ‘Aku pergi’
Merambas pasar metropolitan Jakarta
Membuktikan prinsip ‘Aku Menang’

Diam, membidik kalbu
Relung-relung hati berkata ‘menang dan sukses’
Ya, Aku Pergi bersandar jiwa menggempur kegelapan,
Mencari peta-peta cela di keriuhan metropolitan
Pergi mencari terang,
Terang kemenangan,
Terang kesuksesan,
Terang prestasi sebagai dasar cita

Aku Harus pergi,
Pergi merambah kegelapan,
Yang mengusik awak-awak semesta, tapi …
Kegelapan yang bukan hampa
yang tak bergulita
yang bukan tiada terang
yang bukan tiada ada
yang berisi selaksa peluang, segudang potensi
Aku Pergi,
Menapaki tangga-tangga di medan potensi
Menabur benih padu dan prestasi
Menuai impian cita dari Dewata di Timur

Aku Pergi Tuk Me…