Selasa, Januari 15, 2008

Untuk Apa Berbeda


Untuk apa berbeda warna
Berbeda visi, misi dan garis perjuangan politik
Berbeda menakar plata form parpol
Yang merindukan badut-badut penguasa
Kami, rakyat butuh makan, damai dan senyum
Bukan sebatas kata makan
Kami, rakyat tidak butuh janji untuk makan, damai, senyum
Kami, rakyat butuh bukti makanan, rasa damai
dan tebaran senyum di setiap rongga-rongga kulit bumi

Untuk Apa Terus Berbeda;
jika masih ada air mata kaum lata membasahi bumi
jika masih terbersit seberkas darah politik di jalanan
jika tuan-tuan politik saling menabrakan angkuh keangkeran
jika rakyat jelata masih mengungsi ke bilik-bilik kesunyian
jika massa tuan-tuan masih saling mengancam
jika kami rakyat masih menebar senyum palsu
jika bicara lantang dengan pengeras suara di pundak
jika alat tajam masih tetap berbicara
jika lentera politik membentur batu dan bersarang di pucuk cakrawala
Jika masih ada keping debu traumatis menyayat kalbu anak negeri

Untuk apa berbeda?
Kucari perbedaan di awang-awang
Katanya burung masih beterbangan
Kupikul warna-warni bendera politik
Katanya pasir masih berdesir
Kusuluh kain-kain politik bagaikan lentera
Katanya angin, masih riak-riak berhembus
Kujajaki aneka bunga melingkar di kaki-kaki gambar
Katanya politik, anti perbedaan
Berbeda untuk bersatu
Bersatu untuk membangun
Membangun penuh perbedaan
Membangun negeri Indonesia
Membangun rakyat
Membangun harkat dan martabat massa politik yang adi luhur
Membangun Hak-hak azasi setiap anak negeri
Menyambung kemaslahatan dari kenistaan politik buram
Hai, para tuan-tuan politik
Katakan secara jujur
Bahwa tuan-tuan bisa menjadi obor pembawa damai
kala ada rintihan rakyat akibat berbeda warna
Wartakan kepada batu, kayu dan senjata tajam
Kami memang berbeda
Kami berbeda untuk membangun sebuah tonggak politik
Menyongsong era baru pembangunan lima tahun
yang memancarkan sinar-sinar persatuan
Jika tidak,
Kenapa kita mau berbeda?
Sedangkan perjalanan masih terus panjang
Tidakkah masih ada pembaharu yang bersahaja?
Hai, tuan-tuan politik
Singkirkan segera kekerasan politik
Yang menyisakan kasih traumatis
pada nurani kaum jelata dan lata
yang mengidamkan perut kenyang untuk hari ini
merindu rasa damai mulai detik ini
Sekarang, tebarkan senyum asri bersama dokar-dokar politik.
Sekarang. Jangan besok
Jangan lusa dan apalagi tula

Untuk Apa Berbeda?
Jika hanya menyisakan nokta sengsara pada dinding bumi
Untuk apa berbeda?
Jika hanya menegasikan sebuah kedaulatan berpolitik rakyat?
Untuk apa berbeda?
Jika batu, kayu dan sajam masih mengisi khasanah jalanan?
Untuk apa masih memerah lalapan api,
bekas batu kayu meronta di sela kehidupan?

Untuk apa berbeda
Jika embun-embun penyegar hati sulit menggairahkan hati?
Untuk apa berbeda
jika tetap terbuka rongga-rongga keserakahan?
Sekat-sekat korupsi menyejara?
Untuk apa?
Untuk sebuah kekuasaan di telikungan sejarah?
Katakan tidak, tidak dan tidak,......
Berbeda demi dan untuk menegakan hak-hak azasi rakyat
Berbeda untuk membangun
Berbeda untuk menata potret buram kerakyatan Indonesia
Berbeda untuk merekam aspirasi kaum pinggiran
Berbeda untuk memperjuangkan hidup rakyat
Berbeda untuk meneruskan cita-cita the Founding Father
Tak ada waktu untuk terus semaikan perbedaan
Sudah cukup tua, rakyat menampung derita-derita perbedaan
Cukup. Cukup.
Cukup sudah menabur benih-benih perbedaan
Rakyat muak dan malu mengungsi akibat politik
Rakyat capek meneteskan air mata politik di jalanan
Rakyat benci kepada para bandit-bandit politik
Rakyat diam, bila mendengar suara politikus yang menggelegar di panggung

Rakyat nasibmu tetap di telaga politik

Cermin Cinta Yang Retak


Bendel keakuan terpahat kambuh
Empul keegoan tertancap menembus cinta
Sketsa bumi tersembunyi dalam tanya
Kepingan cintapun seketika retak
Hanyut dalam larutan air mata dan sesal
Awan gemawan mengaca tajam
Meneropong hati yang serba bisu
Comelan bisupun mengadu
Dalam batin awak semesta yang berlaraz lirik
Saat dendam mendendang maaf
Tercebur dalam pengapan cinta nan asam
Mengais naluri yang merindu cinta
Akan patahan hidup penuh riak
Rayuan pun kian meredup
Tersembunyi meradang akan cinta
Seakan cinta terakit pada dinding asmara
Lalu, Silentium Magnum menebar senyum
Melele dalam rongga yang tidak bertepi
Pun membeku di atap bilur-bilur nista
Kala cermin cinta bertepuk retak
Suasana bising sontak berlagu
Memagnet cemburu
Dalam bilik-bilik hati yang menyimpuh
Menoreh pose bumi penuh tatap
Semua berlabuh di tepian batin….
Pantai Sanur, Bali 9 Februari 2006

Dalam Relung Senja


Syair Kyrie Eleison mendaras
Kala senja nyaris merayu bibir laut
Titah hati bumi bergema,
Terhempas dalam gubuk-gubuk pasir putih
Terdengar melodi, Kyrie Eleison
Meski tak ada bilur bumi yang diampuni
Deru ombak bersibak dalam relung telapak
Semilir angin pasang berhembus
Merasuk dalam sekat-sekat bumi
Pasir bergesek pertanda ada kehidupan
Ingin menyapa tamu pantai yang berselangka datar
Semedi tuk membuang kebisingan
Di atas onggokan rutinitas kehidupan
Tapi, hati tetap menahan duka palu
Yang merobek kalbu dalam paruh waktu
Tersabit pada sarang nurani yang munafik
Dalam bilur-bilur dengki, dusta, isu dan nista
Aku menatap senja di telaga nirmala
Dalam bentangan teriakan gempita
Kucoba menggali pasir untuk mengaca
Adalah jawaban keangkuhan
Adalah sia-sia keabadian komedi
Adalah tersisa kata tidak ‘tuk tak terus bergumul
Dalam lautan kesalahan dan kegamangan
Dalam samudera godaan beruntun
Hanya,
Adakah bibit maaf tersembul bersama desiran angin?
Adakah sisa-sisa mujizat yang ditunggu?
Adakah umpatan masih terus menggumpal?
Katakan ‘Tidak’ untuk kali terakhir
Sebab yang tersisa
adalah kesia-siaan dan kamuflase
Yang lagi tersisa adalah senyum rayuan
Hanyutkan bersama tenggelamnya mentari
Dalam deraian butir-butir samudera
Lalu itu,
Aku coba sembunyi dalam diam
Menakar warna aneka mentari di ufuk barat
Hanya kandas dalam nirwana Petitenget
Terbalut dalam sarang-sarang karang

Denpasar, 24 September 2004

Sinar Cinta Kematian

Pada telaga keterlelapan
Selaksa cahaya menyorot punggung
Aku coba sembunyi dan merayap
Bayangan malam menyelinap pada badan jalan setapak
Kucoba malu melangkah seribu
Aku terasa penuh pilu dan bilur
Aku cape dikejar-kejar sinar
Dalam pelukan punggung bumi yang retak
Semua hanya berarak di tepi-tepi jalan setapak
Aku lalu sadar terlambat
Sorotan sinar nan tajam adalah kehadiran-mu, Mama
Aku lalu sadar dan tahu, Mama
Engkau begitu menyayangiku
Dengan susu buah dada-mu dulu
Aku bangga Mama-ku
Susu-mu yang kurus adalah
Tempat bersarang mulutku dulu
Aku tahu mama-ku
Dalam susu buah dada-mu,
Ada kasih dan sayang
Ada roh kehidupan dalam bayang-bayang terang
Sinar-mu yang datang adalah
Tempat bersarang kasih dan sayang dulu
Sinar-mu itu, tanda pamit mama kepada-ku
Bahwa aku pergi, nak…
Hanya aku tak menepis,
Mama tega menyapa aku pergi
pada larut malam, Rabu 2 Juni 2004
Mama, aku lantas sadar
Aku tak mungkin bisa lari
Tidak pernah rencana melari
Aku masih waras soal beban kasih, sayang dan derita dulu
Memikul tanggung jawab yang maha kasih
Cahaya-mu adalah sinar kematian
Di sana, Nu Teruik menembus Kota Dato Ninluli
Merabas hutan dan jalan tak beratap
Aku tahu,
Cahaya kematian raksasa Mamaku, Bernadina Moru
Hanya, izinkan aku harus bertanya,
Mengapa harus tiga kali mama menyinariku?
Juga aku tahu, tuk tak lari memikul beban
Aku lantas tahu,
Mama meninggal dunia
Itulah, cahaya cinta kematian
Akupun tahu,
Cahaya adalah jembatan terang
Kematian adalah jembatan kehidupan
Mama, aku sadar
Mama sayang, cinta dan kasih padaku
Dalam sorotan cahaya ASI
Pun aku tengadah mengais wajah-mu
Semua sirna ditelan jarak dan waktu
Tapi…
Bukan aku tolak cahaya-mu
Aku coba lari sembunyi
Aku masih banyak utang
Aku tahu yang Mama tahu
Aku mau balas mama
Terlambat dalam air mata jarak
Selamat Jalan Mama- ku Tercinta

Rabu, 3 Juni 2004
Bouraq Airlines, Surabaya – Kupang

Aku Pergi

Pergi menuju,
Pergi berjuang
bukan untuk berbelaskasih
pun tidak untuk dikasihani
tapi tetap menabur cinta tuk menuai belaskasih

Aku pergi, ya pergi ke seberang
Di sana, wajah semesta menanti
tuk bersama berjuang,
meniti karier
mengukir prestasi
Aku pergi tanpa berdalih
berdalih untuk atau demi
hanya satu tekad ‘Aku pergi’
Merambas pasar metropolitan Jakarta
Membuktikan prinsip ‘Aku Menang’

Diam, membidik kalbu
Relung-relung hati berkata ‘menang dan sukses’
Ya, Aku Pergi bersandar jiwa menggempur kegelapan,
Mencari peta-peta cela di keriuhan metropolitan
Pergi mencari terang,
Terang kemenangan,
Terang kesuksesan,
Terang prestasi sebagai dasar cita

Aku Harus pergi,
Pergi merambah kegelapan,
Yang mengusik awak-awak semesta, tapi …
Kegelapan yang bukan hampa
yang tak bergulita
yang bukan tiada terang
yang bukan tiada ada
yang berisi selaksa peluang, segudang potensi
Aku Pergi,
Menapaki tangga-tangga di medan potensi
Menabur benih padu dan prestasi
Menuai impian cita dari Dewata di Timur

Aku Pergi Tuk Mengalami
Bukan untuk berteduh dalam debu bumi
Bukan untuk memboros keringat
Bukan melabrak kerikil tajam
Bukan membasmi debu di alas kaki
Tapi…….
Bertarung membongkar duri
Menjelajah cela tercecer
Menembus batas-batas kayal
Meraih sukses, menggapai harapan

Denpasar,  Sabtu, 05-04-003

Tentang Saya

Foto Saya
Denpasar, Bali, Indonesia
Lahir di Ninluli, Asumanu, Belu (NTT), 21 Februari 1970. SDK Asumanu (1978-1984), SMPK St Yosep Weluli, Lamaknen (1984-1986), Seminari Menengah Sta Maria Immaculata Lalian, Atambua (1986-1990). Pendidikan Filsafat dan Spiritual Fransiskan pada Biara OFM (Ordo Fratrum Minorum) atau Ordo Saudara-Saudara Dina di Jakarta (1990-1993). Setelah melepas jubah coklat, Albert kembali ke Timor dan merantau Dili, Timor Leste. Selain jadi wartawan, juga menjadi guru Bahasa Jerman, Bahasa Inggris dan Matematika di SMUK Paulus VI Dilli (Agustus 1993-September 1999). Wartawan Suara Karya (1993-2003), wartawan Novas (1997-1998), wartawan Timur Romansa (1998-1999), reporter Radio Beringin (April-September 1999), Anggota penulis Ikatan Keluarga Berencana (IKB) (1995-1998) dan jelang Jajak Pendapat, menjadi staf Media Center Satuan Tugas Pelaksana Penentuan Pendapat Timor-Timur (Satgas P3TT) Deplu RI (Maret-September 1999). Di Bali, selain Wartawan Suara Karya, juga Redpel Fajar Bali (Mei 2002) dan penulis lepas di Suara Timor-Timur (STT). Pemred Koran Pak Oles (Maret 2003-sekarang) dan Tabloid Otomotif MONTORKU (Agustus 2004-sekarang).